Minggu, 10 Juni 2012

PARTAI ISLAM FACEBOOKIYAH INDONESIA


ISLAM sebagai pemersatu...perpecahan dan perselisihan pendapat bukanlah rahmat...Islam datang sebagai pemersatu...I'TASHIMU BIKHABLILLAHI JAMI'AN WALA TAFARROQUU...Bersatulah di jalan Alloh dan janganlah berpecah belah...

100 juta face booker muslim Indonesia akan menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar...selalu menjadi OPOSISI untuk membongkar ketidak beresan birokarsi dan kebejatan moral elit politik di negeri ini...bumi pertiwi adalah amanat dan tanggung jawab kita bersama.




Visi:

* Menggarap konsep hidup (way of life) dari Allah (Al-Kitãb) yang obyektif ilmiah menjadi karakter manusia.
* Mengubah pandangan dan sikap hidup (PDSH) yang bernilai eksperimental (coba...-coba; spekulasi) menjadi PDSH yang patronal (mengikuti pola/uswah), untuk melahirkan manusia-manusia yang saling peduli dan saling memakmurkan.
* Mempersatukan umat Islam dan para pemeluk agama-agama lain dalam kesatuan kesadaran untuk berbakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbakti terhadap nusa dan bangsa, serta bekerja-sama dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bangsa Indonesia secara khusus, dan dunia secara umum.

Misi:

* Melakukan berbagai jenis usaha perdagangan dan jasa mulai dari kecil-kecilan sampai sebesar-besarnya, untuk mendanai seluruh kegiatan partai, sehingga partai dapat berjalan secara mandiri.
* Menggalang kepedulian dan keterlibatan setiap lapisan masyarakat untuk menjalankan visi tersebut.
* Menghimpun para pakar dalam berbagai disiplin ilmu dan ketrampilan untuk mendidik para pemuda/pemudi yang akan menjadi para pemimpin bangsa di segala bidang kehidupan.
* Menghimpun para sukarelawan yang siap melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis yang dikuasai.
* Menerbitkan media informasi yang mencerahkan, dan dapat menjangkau masyarakat seluas-luasnya.

Latar belakang

Latar belakang atau motivasi (an-niyyah, niat) yang mendesak lahirnya deklarasi ini dapat didata secara ringkas sebagai berikut:

1. Permasalahan aktual bangsa yang tidak kunjung bangkit dari lubang keterpurukan, bahkan berbagai bencana alam yang datang susul-menyusul semakin menghimpit rakyat dalam penderitaan dan menambah beban pemerintah yang sudah berat menjadi semakin berat.
2. Delapan tahun setelah kejatuhan Suharto, bangsa Indonesia telah berhasil menampilkan empat orang presiden. Dimulai dengan B.J. Habibie, yang cukup sukses sebagai figur transisi tapi gagal menggapai legitimasi untuk menjadi presiden yang sebenarnya. Kemudian Abdurrahman Wahid, yang berhasil mengembalikan istana menjadi rumah rakyat namun gagal mengelola negara. Lantas, Megawati yang menjadi orang nomor satu negeri ini, yang belum lagi tuntas mengkonsolidasi pemerintahnya, sudah disibukkan oleh persiapan menghadapi pemilihan umum,[1] yang akhirnya membuatnya harus merelakan kekuasaan jatuh kepada mantan menterinya sendiri, Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Selanjutnya, SBY, yang menjadi presiden RI pertama hasil pilihan rakyat secara langsung, harus menjalankan pemerintahan di bawah segala sorotan dan diganduli segala tuntutan yang tentu tidak bisa dipenuhinya semudah ketika tuntutan-tuntutan itu diucapkan sebagai janji. Kenyataannya, permasalahan bangsa ini, yang begitu banyak dan rumit, pastilah tidak mungkin – bahkan tidak adil, bila hanya dibebankan kepada seorang presiden.
3. Pecahnya reformasi, yang selanjutnya melahirkan eforia kebebasan, berdampak pada pengabaian azimat bangsa, yakni Pancasila, yang sebenarnya merupakan anugerah terbesar bangsa ini. Akibatnya, polarisasi pandangan hidup berbangsa dan bernegara tumbuh semakin liar.
4. Sejak awal kemerdekaan, Pancasila, bhineka tunggal ika, dan UUD 1945 telah dihidupkan dengan spirit (ruh) demokrasi liberal, sehingga Bung Karno sempat melahirkan gagasan Demokrasi Terpimpin, dan Suharto kemudian juga menerapkan secara terselubung gagasan Bung Karno itu, sehingga ia tampil sebagai pemimpin otoriter selama sekitar 32 tahun. Akhirnya, ketika Suharto dijatuhkan, liberalisme atas nama reformasi di segala bidang pun merebak, membuat anak-anak bangsa ini seolah berubah jadi kuda-kuda liar yang lepas kekang dan siap melabrak segala pagar.
5. Umat Islam, sebagai bagian terbesar (mayoritas) bangsa, yang seharusnya menunjukkan dan membuktikan keunggulan ajaran Islam – untuk menciptakan dan menjaga keseimbangan serta perdamaian hidup – malah terjebak dalam pertikaian wacana yang tidak berujung dan terus sengit dalam sikap saling benci dan menyalahkan antar mazhab dan golongan, sehingga terjerumus ke dalam sikap saling serang yang jelas meresahkan dan mengerikan, yang bila dilanjutkan tentu akan berakhir pada kehancuran bangsa secara keseluruhan.

Kelima butir masalah di atas – antara lain, tentu telah menyiksa batin setiap anak bangsa – dari unsur mana pun – yang mempunyai kepedulian mendalam atas nasib bangsanya. Entah berapa banyak air mata yang tertumpah bersama tangis dan rintih dalam doa-doa pribadi maupun dalam kerumunan besar umat yang melakukan istighatsah dan doa-doa bersama. Telah banyak pula di antara mereka yang melakukan berbagai usaha serta menelurkan berbagai konsep untuk memperbaiki keadaan. Namun, keadaan bangsa kita tak juga kunjung bangkit dari keterpurukan. Bahkan berbagai bencana yang datang sambung menyambung semakin membuat kita sedih dan bingung.

Apa sebenarnya yang harus kita lakukan?

Siapa yang dapat meyakinkan, atau apa ukurannya, supaya tindakan yang kita lakukan untuk memperbaiki nasib bangsa ini dapat dikatakan sebagai tindakan yang benar?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar